Langsung ke konten utama

Yasa Yuka




Di tahun ke 5 pernikahan kami, Alhamdulillah kami dikaruniai 2 orang putra-putri yang tumbuh sehat, ceria, dan menggemaskan. Namanya Yasa & Yuka. Si kakak usia 4tahun, dan si adik mau 1 tahun. Besok. Dulu, pas si kakak usia setahun, ibunya masih latsar. Jadi dia merayakan hari ulang tahun pertamanya tanpaku. Sekarang, saat si adik mau merayakan ulang tahun pertamanya, gantian ayah yang tak dirumah. Aku percaya Tuhan itu Maha Adil. Hampir setahun kami bertiga dirumah tanpanya. Well, dia harus study abroad. Bukan pilihan yang sulit, hanya keputusan yang bagiku cukup berani. Dan aku memberanikan diri untuk mengambil keputusan itu. LDR bukan lagi barang istimewa, bukan lagi sesuatu yang langka. Yang setiap hari harus diratapi. Di sepanjang perjalanan kami, sejak 10 tahun yang lalu LDR sudah biasa. Tapi bukan berarti tanpa makna. Biasanya aku yang suka cari perkara.

Yasa sudah jadi anak TK, setiap hari sekolah online karena kondisi pandemi Surabaya yang masih dalam zona merah-hitam. Dia sudah bisa diajak ngobrol layaknya orang dewasa. Kadang kalau lawan bicaranya tak mengerti logikanya, dia akan protes. Kesukaannya kendaraan berat, ekskavator, dump truk, dsb. Tapi kadang masih malas disuruh mandi. Dia mengidolakan sosok ayah, karena dia punya kelekatan tersendiri dengan ayahnya. Bisa menjaga adik, kadang juga suka menggoda.

Detik ini, Yuka asik bermain dengan teman2nya bersama Yasa. Dia belum mengerti ayah itu apa, siapa, dimana, kemana. Yang dia tau, semua orang yang berada di sekelilingnya adalah orang2 yang dikenalinya. Dia berusaha beradaptasi dengan lingkungannya. 

Sedangkan aku, saat mereka main diluar di jam sore selama 1 jam, waktuku untuk produktif. Menyiapkan keperluan mereka untuk esok hari. Mengerjakan pekerjaan yang harus tertunda selama pandemi. Yang kupikirkan, bagaimana caranya supaya 2 anak kecil ini bisa tumbuh jadi seorang pemuda yang tegar, tegas, tabah dan kuat. Aku yang harus memerankan sosok ibu untuk Yasa dan memberikan gambaran sosok Ayah pada Yuka. Tak semudah yang tertulis di majalah remaja atau keluarga. 2 anak yang berbeda usia dan jenisnya, memiliki metode tumbuh kembang yang berbeda pula. Bodo amat dengan perkataan orang. Kukatakan pada diriku sendiri, aku bisa. Aku bisa membersamai mereka sampai dewasa. Waktuku tak akan kugadaikan untuk yang lain. Termasuk mereka yang tidak tau bagaimana aku memprioritaskan anak2, dengan mengesampingkan kepentinganku sendiri. Kalau kau tidak bisa sepertiku, jangan meminta dan berharap lebih. 

Memang, kedudukan dan materi tidak bisa membeli kebahagiaan. Hanya ikhlas yang mampu menyatukan keduanya. Teruntuk Yasa Yuka, maafkan kami yang seringkali egois dengan kepentingan kami sendiri. Terimakasih karena telah memberiku kesempatan belajar bersama kalian sebagai seorang ibu. 

Love you all,

Surabaya, 24 Juli 2020
Amsyad el-C

Komentar